Dubes Eropa : Tidak Ada Diskriminasi, Faktanya Impor Minyak Sawit UE Naik

Resolusi Eropa dianggap ancaman terhadap industri kelapa sawit Indonesia dan Malaysia. Resolusi itu merupakan tindakan diskriminatif. Melarang sawit digunakan di tahun 2020 dan menerapkan aturan tunggal (sertifikasi) terhadap industri sawit.

Kelapa sawit juga terus didiskreditkan di Eropa dan Amerika. Mulai dituding sebagai tidak sehat untuk dikonsumsi, merusak hutan, mempekerjakan anak-anak, hingga pelanggaran HAM dan sumber korupsi.

Ancaman itu yang membuat Presiden Jokowi berteriak lantang ketika berada di Filipina. Dia meminta kampanye hitam sawit di Eropa itu diakhiri, sebab diskriminatif dan tidak fair.

Indonesia terus melakukan negosiasi dengan Eropa untuk menyelesaikan itu. Para duta besar juga diberi pemahaman agar bisa menangkal kampanye negatif itu di Eropa (UE) dan Amerika Serikat (AS).

Jika langkah persuasif itu gagal melunakkan UE dan AS, maka Indonesia dan Malaysia tidak segan-segan untuk membawa masalah itu pada WTO. Selain memboikot produk impor dari negara-negara itu.

Tentang persoalan ini, duta besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Vincent Guerend mengatakan, walaupun terdapat keributan soal resolusi parlemen Eropa terkait minyak sawit dan deforestasi, tetapi impor minyak sawit UE dari Indonesia naik 36% by value dan 19% by volume pada Januari-Agustus 2017.

“Ini menunjukkan, bahwa pasar UE sangat terbuka terhadap produk minyak sawit. Jadi, faktanya tidak ada diskriminasi itu,” katanya. jss 

Share