Nigeria Sepakat Bangun Industri Sawit

Indonesia akan kerjasama membangun industri sawit di Nigeria. Indonesia juga mengajak negeri itu masuk sebagai Dewan Negara Penghasil Minyak Sawit (Council of Palm Oil Producing Countries/-CPOPC). Ini sebuah institusi yang dibentuk Indonesia dan Malaysia.

Kesepakatan itu dihasilkan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat mengunjungi Nigeria. Dia menjelaskan, bahwa Indonesia siap untuk melakukan itu. Bekerja sama membangun industri kelapa sawit di Nigeria.

Dalam rilis Kementerian Luar Negeri RI menyebut, Menlu Retno Marsudi melakukan pertemuan bilateral dengan Menlu Nigeria Geoffrey Onyeama di Abuja, Nigeria Senin (5/6).

Dalam pertemuan itu, kedua menlu membahas isu yang berkembang dan kerja sama soal pengembangan kelapa sawit. Sebab Nigeria sedang melakukan diversifikasi ekonomi, dan mengembangkan sektor pertanian kelapa sawit.

Untuk itu, dalam pertemuan itu Pemerintah Indonesia sekaligus mengundang Nigeria untuk bergabung dalam Dewan Negara Penghasil Minyak Sawit (Council of Palm Oil Producing Countries/-CPOPC), sebuah institusi yang dibentuk Indonesia dan Malaysia.

“Kerja sama antara negara produsen kelapa sawit akan berkontribusi dalam menciptakan stabilitas harga. Selain peningkatan produksi kelapa sawit yang berkelanjutan,” kata Menlu Retno.

Dalam pertemuan itu Menlu RI juga menyampaikan, bahwa Indonesia dan Nigeria adalah dua kekuatan ekonomi besar di masing-masing kawasan. Jenis keunggulan ekonomi masing-masing negara bisa saling melengkapi.

Untuk itu, hubungan perdagangan dan investasi antara kedua negara terjalin secara alamiah dan harus terus ditingkatkan. “Fokus Indonesia ke Afrika menjadi momentum yang strategis untuk meningkatkan kerja sama ekonomi Indonesia dan Nigeria,” ujar Retno.

Dalam pertemuan itu kedua Menlu juga membahas upaya untuk meningkatkan kerja sama perdagangan dan investasi. Sebab menurut Menlu RI, masih banyak ruang untuk meningkatkan kerja sama perdagangan dan investasi bagi kedua negara.

Seperti diketahui, Nigeria merupakan negara mitra dagang terbesar Indonesia di kawasan Afrika Sub-Sahara. Nilai perdagangan kedua negara itu mencapai 1,5 miliar dolar Amerika Serikat (AS) di tahun 2016.

Negeri di Afrika itu juga merupakan negara tujuan utama investasi Indonesia di benua itu. Terdapat sekitar 14 perusahaan Indonesia yang sudah melakukan investasi di negara itu. Selain itu, Nigeria juga merupakan salah satu negara penting yang menjadi sumber ketahanan energi Indonesia.

Saat Menlu Retno Marsudi melakukan kunjungan kehormatan pada Wakil Presiden Nigeria Yemi Osin-bajo, pembahasan soal kerja sama ekonomi juga dipaparkan. “Indonesia dan Nigeria adalah dua negara besar yang dapat memanfaatkan semua peluang yang ada,” katanya.

Menlu juga secara resmi menyampaikan undangan dari Presiden Joko Widodo untuk melakukan kunjungan ke Indonesia tahun ini. Sebab Yemi adalah pelaksana tugas Presiden Nigeria.

Dalam kesempatan itu Menlu Retno menyampaikan minat Indonesia merevitalisasi perdagangan bilateral. Sebab selama lima tahun terakhir ini mengalami penurunan. Caranya, dengan pembentukan “Preferential Trade Agreement” termasuk dengan ECOWAS, dan skema perdagangan langsung migas antara kedua negara.

Dalam jawabannya, Wapres Nigeria itu mendukung upaya peningkatan perdagangan bilateral. Yemi menyampaikan komitmen untuk memberi kemudahan perdagangan dan investasi Indonesia di Nigeria.

Menurut Yemi, terdapat peluang besar bagi Indonesia untuk investasi di sektor pertanian. Apalagi Nigeria memiliki pasar yang besar, an unya akses luas ke negara-negara Afrika Barat lainnya. jss

Share