Terdampak Penguatan Ringgit, Harga CPO Malaysia Merosot

Mata uang ringgit menguat, berdampak terhadap penurunan harga Crude Palm Oil (CPO) Malaysia. Kendati harga minyak kedelai mengalami kenaikan, tetapi bagi pemegang mata uang asing, CPO sawit masih kalah bersaing.

Seperti Indonesia, harga CPO Malaysia mengalami penurunan dari level tertingginya di minggu sebelumnya. Pada Senin (4/12) malam, kenaikan kurs ringgit terhadap US dollar mmpengaruhi harga CPO negeri ini. Kenaikan itu membuat minyak sawit lebih mahal bagi pemegang mata uang asing.

Kontrak minyak sawit acuan untuk pengiriman Februari di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 0,6 persen pada 2.588 ringgit ($ 637,44) per ton. Padahal sebelum itu kontrak mencapai level terkuatnya sejak 24 November di 2.625 ringgit.

Volume yang diperdagangkan masing-masing mencapai 34.067 lot dari 25 ton pada Senin malam.

Ringgit adalah mata uang perdagangan kelapa sawit. Diperdagangkan pada level tertinggi satu tahun pada Senin malam, ditutup menguat 0,7 persen pada 4,060 dengan US dolar.

Pasar CPO sawit itu hanya naik pagi hari mengikuti kenaikan minyak nabati lainnya karena kekhawatiran banjir di pantai timur Semenanjung Malaysia mempengaruhi produksi. Namun siang hari, harga itu terkoreksi. Penurunan terjadi.

Musim hujan akhir tahun yang menyebabkan banjir dapat menekan produksi minyak kelapa sawit. Dalam jangka pendek itu akan mengganggu panen.

Malaysia merupakan produsen CPO terbesar kedua di dunia setelah Indonesia. Penurunan bulanan pada November setelah data regulator industri menunjukkan output mencapai angka 2 juta ton pada bulan Oktober. Ini naik 12,9 persen ketimbang bulan sebelumnya.

Minyak kelapa sawit juga dipengaruhi oleh pergerakan minyak nabati lainnya. Mereka bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.

Untuk kontrak minyak kedelai bulan Januari 2018 di Chicago Board of Trade naik 0,2 persen. Sedang data Dalian Commodity kontrak minyak kedelai Januari naik 0,1 persen. Sedang untuk Olein Palm Januari naik 0,7 persen. jss

Share