Burung Surga (28) : Diberi Nasehat, Zaenab Bunuh Burung Menco

Kita kembali melihat apa yang dilakukan istri juragan Nangim yang sedang jatuh cinta. Sore hari sekitar jam lima, Retno Zainab tampak melangkah pelan di halaman, dan hendak menuju rumah si janda untuk menepati janjinya bertemu Sang Pangeran.

Namun sebelum keluar rumah, Zaenab segera ingat kembali pesan sang suami, Ki Nangim yang juga disebut Ki Samik. Ia selalu disuruh minta nasehat burung Bayan dan burung Menco jika hendak melakukan sesuatu. Ingat itu Zaenab menjadi ragu. Adakah ia langsung menemui si jantung hati atau minta nasehat kedua burung itu terlebih dulu.

Ketika dipikir-pikir, Zaenab pun kembali ke rumah menemui kedua burung itu. Zaenab naik ke loteng untuk menenangkan hatinya. Saat itu ia melihat satria muda yang bagus rupa, putra seorang penguasa, yang masuk ke dalam rumah janda tetangga Zaenab. Tak lama si janda ke rumahnya, tanya tentang pertemuan yang sudah disanggupi.

Zaenab bingung. Ia bimbang. Tapi tidak bisa dipungkiri, hatinya memang tertarik pada satria muda bagus rupa itu. Bahkan ia pun sudah berniat kelak akan minta cerai. Tak masalah baginya jika harus membayar sejumlah uang kepada modin desa. “Kalau perlu aku harus kerja keras mencari uang sendiri,” pikir wanita ayu ini dalam hati.

Melihat gelagat Zaenab yang tidak baik itu, burung Menco segera mengingatkan ratu ayu Zaenab. “Betapa rugi, punya paras ayu tapi berlaku maksiat rendahan. Jika tidak setia pada suami, haram masuk surga. Nanti akan menerima siksa akhirat, dibakar api yang panas, sedang di dunia hidup tidak dihormati. Bukankah suami nyonya Zaenab sedang pergi ke luar negeri berdagang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya, tapi mengapa isterinya justru akan melakukan selingkuh,” kata Menco.

Mendengar ucapan Menco itu, Zaenab setengah menahan marah merapatkan mulutnya. Telinganya ditutup rapat. Namun seperti kaum perempuan pada umumnya, jika tengah rindu atau punya keinginan seringkali memilih mati. Zaenab pun sama. Dengan penuh kemarahan, ia pun mendekati burung Menco.

Katanya, “He Menco, kamu telah lancang! Engkau tidak sadar siapa yang selama ini memberimu makan dan minum. Siapa pula yang menyelamatkanmu dari sergapan kucing di masa lalu. Itu kalau tidak karena kebaikanku, engkau sudah jadi bangkai, dan habis ditelan kucing. Rasakan nanti, tanganku akan segera mematahkan lehermu.”

Setelah berkata begitu, Zaenab pun segera menyingsingkan lengan baju. Tangannya dengan kasar merogoh ke dalam kurungan. Tubuh burung Menco itu ditangkap dan dibanting ke tanah. Hanya sekali banting, sang Menco pun wassalam. Tewas. (jss/bersambung)

Share