Rumi Sufi Cinta (3) : Terpesona Ali bin Malik Daad

Pada Jumadil-akhir 642 Hijriyah, datang seorang lelaki beraliran sufi dari Tabriz, sebuah daerah di wilayah Iran, ke Kauniyah. Namanya Muhammad bin Ali bin Malik Daad, tetapi lebih dikenal dengan sebutan Syamsi Tabriz.

Tidak banyak yang tahu nasab (asal) keturunannya. Hanya ceritanya, suatu hari, seperti biasanya, Jalaluddin sedang memberikan pelajaran di depan khalayak. Banyak yang bertanya, dan Jalaluddin menjawabnya dengan enak.

Tiba-tiba, hari itu, seorang lelaki asing yang bernama Syamsuddin alias Syamsi Tabriz melemparkan pertanyaan: “Apakah yang dimaksud dengan riyadlah dan ilmu itu.”

Mendengar pertanyaan ini Jalaluddin terkesima. Apa yang dikemukakan Syamsuddin itu telak. Sebab selama ini, pertanyaan itulah yang banyak dipikirkan Jalaluddin Rumi. Akibatnya, sejak saat itu Jalaluddin mulai lengket dengan Syamsuddin yang kemudian menjadi gurunya.

Keduanya tinggal bersama dalam sebuah kamar selama 10 hari. Malah ada pula yang mengatakan, bersama guru barunya itu Jalaluddin selama enam bulan mengasingkan diri di dalam kamar Shalahuddin Zarkub ad-Dukak. Tidak seorang pun berani masuk ke kamar, kecuali si pemilik kamar.

Saat itu Jalaluddin seperti menemukan semangat baru. Baginya, guru baru itu adalah segala-galanya. Guru itu banyak menunjukkan kepadanya berbagai kebenaran. Tidak mengherankan bila dalam sebuah sajaknya dia menulis, “Sesungguhnya Syamsi Tabriz itulah yang telah menunjukkan jalan kebenaran. Dialah yang mempertebal keyakinan dan keimananku.”

Sementara itu, anak lelaki Jalaluddin, Sultan Walad, sempat berkomentar. “Sesungguhnya, seorang guru besar tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari sang guru besar harus menimba ilmu darinya, meski sebenarnya beliau cukup alim dan zuhud. Tetapi itulah kenyataannya. Dalam diri Tabriz, guru besar itu melihat kandungan ilmu yang tiada taranya.” (jss/bersambung)

 

Share