Rabi’ah Al-Adawiyyah (7) : Bergetar Sambut Kesejatian Cinta

Sebagaimana seorang sufi, Rabi’ah menjalani keidupan hingga masa tua. Ia menghabiskan waktu untuk beribadah kepada Allah hampir selama sembilan puluh tahun. Di usia tuanya, wanita suci ini tetap memiliki pikiran yang cemerlang dan batin yang makin tajam, meski kondisi phisiknya telah renta. Hingga di akhir hayatnya, ia masih menjadi panutan bagi orang-orang yang membutuhkannya.

Seorang perawi riwayat hidupnya menjelaskan, apabila Rabi’ah mendengar tentang kematian, tubuhnya menggigil dan bergetar. Dan bila ia mendengar ada yang menyebut tentang api, ia tak sadarkan diri.

Pengaruh dari pembicaraan tentang api terhadap Rabi’ah ini, karena api merupakan unsur yang selalu dihubungkan dengan neraka. Dan neraka merupakan tema kejahatan yang berkembang pada pemikiran sufi periode awal.

Rabi’ah adalah seorang manusia yang terbakar api cinta. Dan dalam hal ini, ‘api’ memiliki unsur yang suci dan rahmat, karena meski mengakibatkan penderitaan, namun bisa melebur segala sesuatu yang tidak berharga.

Orang yang terbakar api akan merasakannya. Tapi karena Rabi’ah itu sendiri adalah api, bagaimana mungkin ia dapat terbakar. Maksudnya, seseorang yang menjadi hamba dirinya sendiri atau dosa-dosanya, pasti akan merasakan api kemarahan Allah. Tapi mereka yang terbakar pada api cinta kepada Allah, maka apa yang dilakukan pada hari Pengadilan nanti?

Rabi’ah hatinya terpanggang oleh api cinta. Jiwanya begitu membara hanya untuk Allah. Untuk itu, tentu, api tidak akan bisa membakarnya. Kendati, ia akan tidak sadarkan diri ketika mendengar api disebut.

Perasaan Rabi’ah ini lebih mengandung arti kebahagiaan dari pada rasa takut. Bagi Rabi’ah, Tuhannya hanya Allah yang satu. Dia merupakan api penderitaan dan Sinar Kebahagiaan bagi jiwa untuk selama-lamanya. Baik sekarang maupun hari kemudian.

Api yang menundukkan cinta itu menuntut penyatuan abadi dengan ‘api abadi’. Dan apabila disebutkan tentang kematian, maka tubuhnya seketika akan bergetar. Bukan karena ketakutan, melainkan karena kebahagiaan sejati.

Di satu sisi memang kehidupan lahir Rabi’ah sangat lemah, mungkin karena lelaku zuhud yang ia lakoni terlalu lama. Dan mungkin juga akibat tirakat panjang yang ia jalani selagi mudanya. Ia sering jatuh sakit.

Pada suatu hari Rabi’ah jatuh sakit. Sahabat yang selalu mendampinginya berkata : “Wahai yang mulia di dunia ini, sungguh tak tampak penyakitmu di mataku. Tapi engkau sangat merasakan sakit  dan selalu menangis.”

Jawab Rabi’ah : “Sakitku adalah dari dalam dadaku. Di mana penyembuh di seluruh dunia tidak ada yang dapat menyembuhkannya. Dan pembalut lukaku adalah menyatukan dengan sahabatku. Itulah yang bisa meringankannya. Bukankah esok aku dapat meraih tujuanku. Tapi karena rasa sakit ini tidak menggangguku, tampaknya aku menderita, tak ada yang kuperbuat dari semua ini. Tanda-tanda phisikku tak seberapa dibanding penderitaan batinku.”

Jiwa yang mencintai Tuhan memang lebih hidup dalam kehidupan yang akan datang. Sebab jiwa akan hidup, dimana terdapat cinta. Lihatlah penyakit cinta itu tidak dapat disembuhkan, kecuali dengan kehadiran-Nya dan di depan Wajah-Nya. Sebab penyakit ini berbeda dengan penyakit lainnya. Karenanya juga ia membutuhkan penyembuhan lain. Cinta tidak dapat disembuhkan kecuali oleh keharmonisan yang ada padanya. Tidak penyembuhan lain, kecuali kehadiran Yang Dicintai. (jss/bersambung)

Share