12 Tahun Melawan Karhutla, Angga Menemukan Kekuatan dari Keluarga

Berita8 Views

SAWITPLUS.COM, SIAK– Selama lebih dari satu dekade mengabdikan diri sebagai petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan, Angga Setiawan telah melewati berbagai situasi yang menguji keberanian dan ketahanan dirinya.

Bekerja di tengah ancaman kebakaran bukan perkara mudah. Bahkan, ia pernah mengalami kejadian yang hampir merenggut keselamatan dirinya bersama anggota tim lainnya.

Kala itu, Angga dan rekan-rekannya berada dalam kondisi terkepung kobaran api saat menjalankan operasi pemadaman. Melihat beberapa anggota mulai panik, ia berinisiatif menenangkan mereka dan mengarahkan tim untuk mencari jalan keluar.

Mereka bergerak perlahan menjauhi api hingga menemukan sebuah kanal. Angga kemudian meminta seluruh anggota masuk ke air dan berenang untuk menyelamatkan diri dari kepungan kobaran api.

Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil setelah sebuah speedboat terdengar mendekat. Rekan kerja mereka datang menggunakan perahu tersebut untuk menjemput seluruh anggota tim.

“Tidak lama kami berenang, kami mendengar suara speedboat. Ternyata rekan kerja saya sudah menjemput kami. Alhamdulillah, kami semua selamat dari kobaran api,” kenangnya.

Kejadian itu menjadi pengalaman paling berat bagi Angga selama 12 tahun bekerja sebagai anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) Regu Pemadam Kebakaran PT Arara Abadi, unit usaha APP Group.

Meski terbiasa menghadapi situasi berbahaya, kehidupan di balik pekerjaannya menyimpan tantangan tersendiri. Angga harus mengatur jarak antara kewajiban menjalankan tugas dan keinginannya untuk selalu berada di dekat keluarga.

Di Perawang, pria berusia 32 tahun itu tinggal bersama istrinya, Dea Tri Oktari, yang berusia 26 tahun, serta seorang anak. Ketika penugasan mengharuskannya berada di lapangan selama berminggu-minggu, kebersamaan keluarga menjadi hal yang harus ditunda.

Salah satu hal yang paling menyentuh perasaannya adalah ketika anak sedang demam dan meminta dirinya pulang melalui panggilan video.

“Berat, terlebih lagi kalau anak sedang demam dan video call menyuruh saya pulang,” ujarnya.

Angga menyadari bahwa anaknya membutuhkan kehadiran seorang ayah. Namun, tanggung jawab pekerjaan membuatnya harus menyelesaikan tugas terlebih dahulu sebelum dapat kembali ke rumah.

Dalam menghadapi keadaan tersebut, ia bersyukur memiliki istri yang selalu memberikan dukungan. Dea tetap mendampingi anak mereka di rumah dan berusaha menjelaskan keadaan ketika sang anak meminta ayahnya segera pulang.

“Untung saja istri saya sangat mendukung. Istri saya mencoba menenangkan anak ketika anak meminta saya pulang,” kata Angga.

Dukungan keluarga menjadi salah satu kekuatan yang membuatnya mampu menjalani profesi tersebut. Di sisi lain, Angga juga merasa pekerjaannya memiliki nilai pengabdian karena berkaitan langsung dengan keselamatan masyarakat dan lingkungan.

“Ditambah lagi, pekerjaan ini sangat mulia, menyelamatkan orang banyak supaya tidak terjadi kabut asap,” tuturnya.

Pengorbanan waktu bersama keluarga bukan hal baru dalam kehidupan Angga. Bahkan, ketika baru empat bulan menikah dengan Dea, ia sudah harus menghadapi kenyataan bahwa tugas dapat mengubah rencana kebersamaan mereka.

Kala itu, keduanya telah mempersiapkan pakaian untuk menyambut Lebaran pertama sebagai suami istri. Pakaian tersebut dijahit selama bulan puasa agar dapat dikenakan bersama pada hari raya.

Namun, dua hari sebelum Lebaran, Angga mendapat panggilan tugas untuk memadamkan api. Rencana merayakan hari raya bersama istri pun tidak dapat terlaksana.

“Saya melewatkan momen yang saya tunggu bersama istri saya,” ungkapnya. “Baju yang sudah kami jahit itu dapat kami pakai bersama pada Lebaran kelima.”

Seiring waktu, kehadiran anak semakin memperkuat keinginannya untuk memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga. Setiap selesai menjalankan penugasan panjang, Angga selalu berusaha memanfaatkan waktu luang untuk menemani istri dan anak.

Ia biasanya meminta libur setelah kembali bertugas, kemudian mengajak keluarganya berjalan-jalan. Momen tersebut menjadi cara sederhana untuk mengobati kerinduan setelah sekian lama berjauhan.

“Itulah bentuk melepas kerinduan saya,” ujarnya.

Bagi Angga, menjalankan tugas sebagai petugas pemadam karhutla berarti menerima konsekuensi berupa waktu bersama keluarga yang terkadang harus dikorbankan. Namun, dukungan istri, senyum anak, dan kesempatan untuk kembali berkumpul di rumah menjadi alasan untuk terus melangkah menjalani pengabdian.***