Dibina Asian Agri, Sugiarto Raih Rekor MURI

Sugiarto petani sawit asal Desa Tidar Kuranji dari KUD Subur Makmur, Kecamatan Maro Sebo Ilir, Kabupaten Batang Hari yang juga petani mitra Asian Agri pecahkan rekor Museum Rekor Dunia – Indonesia (MURI) kategori Tandan Buah Segar (TBS) sawit terberat pada tahun ini.

Selain memecahkan Rekor MURI, Sugiarto menerima uang pemeliharaan kebun senilai Rp 10 juta. Penyerahan hadiah itu telah dilakukan pada acara 13th Indonesian Palm Oil Conference and 2018 Price Outlook di Nusa Dua, Bali Bulan lalu.

“Setelah dilakukan verifikasi dan penimbangan TBS di lapangan, TBS milik Pak Sugiarto dinyatakan sebagai pemenang. TBS tersebut seberat 85,02 kg,” ujar Dasrizal Raham, ketua Panitia Sayembara Pemecahan Rekor TBS Terberat 2017 yang dilaksanakan GAPKI.

Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono mengatakan, kompetisi TBS terberat itu untuk merangsang petani plasma agar bisa meningkatkan produktivitas kebunnya. “Ini merupakan upaya kami untuk memberikan semangat kepada para petani agar bersemangat memelihara kebunnya,” jelas dia.

Menurut penuturan Sugiarto, dirinya berusaha maksimal dalam memelihara tanaman sawitnya. Dirinya pun selalu mengikuti bimbingan petugas dari PT Inti Indo Sawit Subur yang merupakan anggota GAPKI Cabang Jambi.

Sugiarto merupakan anggota petani plasma PT Inti Indo Sawit Subur. “Saya selalu ngopeni kebun saya sesuai arahan perusahaan. Kalau disuruh dibersihkan, ya saya bersihkan. Kalau disuruh dipupuk ya saya pupuk. Pokoknya saya ngikut saja,” ujar Sugiarto yang mengaku warga transmigran asal Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur itu.

Sugiarto mengatakan, dirinya memiliki 2 hektare (ha) kebun sawit pemberian pemerintah. Kebun itu kemudian ditanami sawit pada taahun 1993 menggunakan benih pemberian perusahaan.

Saat ini, dari 2 ha kebun sawitnya rata-rata tiap bulan menghasilkan TBS sebanyak 6 ton. Harga untuk 1 ton TBS pada saat itu Rp 1.685.950. Artinya, tiap bulan Sugiarto mengantongi uang Rp 10.115.700.

”Tapi dalam 2 ha itu hanya tujuh pohon sawit yang menghasilkan TBS jumbo,” ujar Sugiarto.

Ia mendapatkan pelatihan khusus dari manajer perusahaan mengenai cara mengelola perkebunan, memberian pupuk, menyuburkan tanah, hingga membasmi hama.

“Jenis pupuk yang mengatur dari perusahaan, perusahaan juga memberikan tandan kosong biar sawit menjadi subur. Hasil buahnya kemudian menjadi besar-besar dan makin banyak,” kata Sugiarto. lina

Share