Rektor Instiper Yogya : Pelaku Sawit Juga Perlu Direplanting

Sawit sudah banyak yang perlu diremajakan (direplanting). Bukan hanya pohonnya, tetapi juga pelakunya. Itu diungkapkan oleh Rektor Institut Pertanian (Instiper) Yogya, Ir Sri Gunawan MP. Sebab, belum banyak anak-anak muda yang tertarik untuk berkebun, utamanya berekebun sawit.

Dikatakan Rektor yang berpostur tinggi itu, bahwa kelapa sawit ini memberikan kontribusi pajak atau ekspor non migas sebesar 75%, di atas minyak. Dan kenyataannya, sawit bisa mengangkat rakyat dari kemiskinan, dan mereka sejahtera.

“Buktinya yang di Riau sini. Semuanya sejahtera karena sawit itu tadi. Itu yang menjadi daya tarik kelapa sawit ini. Anugerah di Indonesia ini, anugerah Tuhan yang di daerah tropis ini, dilewati garis khatulistiwa ini, harus betul-betul kita kelola dengan baik,” ungkapnya.

Namun dia menyayangkan kurangnya kepedulian dan ketertarikan generasi muda untuk mengembangkan dan memajukan perkelapa-sawitan ini. Dikatakannya, saat ini problem yang ada di Indonesia adalah siswa-siswa atau anak-anak muda saat ini tidak senang ke pertanian atau ke perkebunan.

“Alasannya apa? Jauh, kotor, tidak mensejahterakan, sinyalnya juga sulit kalau di kebun. Itu yang menjadi problematika. Maka kita harus menyampaikan informasi-informasi yang sebenarnya ini kepada anak-anak muda, supaya senang dan cinta kepada perkebunan. Akhirnya supaya nanti perkebunan kelapa sawit tetap menjadi unggulan di negara kita ini. Menjadi juara di dunia,” sebutnya.

Sebagai bentuk perhatiannya terhadap sawit di Indonesia, pertengahan Desember lalu (17/12/2017), Instiper Yogya baru saja menggelar pelatihan terkait teknologi dan manajemen sawit untuk para guru SMK Pertanian dari seluruh Riau. Acara itu berlangsung selama empat hari dan akan terus diadakan setiap tahunnya.

Gunawan menyebut, pelatihan ini bertujuan agar bapak ibu guru peserta pelatihan nantinya bisa memberikan pelajaran kepada siswa-siswanya. Tidak hanya teorinya saja, tetapi juga bisa diaplikasikan di lapangan.

“Harapan kami di 2018, nanti tidak hanya gurunya, tapi juga siswanya sebagai pelakunya. Jadi secara masif petaninya dilatih, kemudian anaknya juga dilatih, gurunya juga dilatih. Sehingga nanti menjadi satu keterkaitan, akan seiring sejalan untuk mengembangkan sawit nasional,” harapnya.

Ditambahkan pria berkacamata ini, pelatihan itu juga terkait karena tanaman sawit sekarang sudah banyak yang tua. Sudah saatnya direplanting, yaitu khususnya perkebunan rakyat. Maka menurutnya, selain tanamannya yang diremajakan, pelakunya pun juga harus diremajakan.

“Pelaku yang diremajakan itu siapa? Yaitu dari siswa-siswa SMK itu. Supaya mendapatkan pengetahuan yang bener, maka guru-gurunya pun harus mempunyai pengetahuan yang bener dulu, sehingga siswa-siswa SMK itu paham kaitannya sawit ini,” ujarnya. dam

Share