Bohong Itu, BRG Redam Kebakaran Lahan dan Hutan

“Kenapa cantrang itu bisa dicabut PP-nya. Padahal itu kan sangat berbau politik. Menteri Susi sama jajarannya Jokowi, berarti kan sudah menjilat air ludah sendiri. Tidak satu pun perguruan tinggi setuju. Kalau dibilanglah 40 cm permukaan air, berenanglah sawit itu. Kalau 40 cm ke atas, berarti kan ini tanah, air itu harus 40 cm, gak bisa di atas 40 cm itu. Kalau misalnya 40 ke atas, katakan 38, 35, 30, kan berenang akar sawit itu, tumbanglah. Jadi sama saja menyuruh jangan nanam sawit,” papar Gulat Manurung pada Sawitplus.com

Menurutnya, keberhasilan badan restorasi gambut meredam kebakaran hutan menjadi 0% sejak 2014 adalah berita yang tidak benar. “Itu bohong. Yang benar adalah penegakan hukum yang tegas membuat orang takut untuk bakar hutan. Itu saja. Coba kita lihat, BRG muncul tahun 2016, PP Gambut 2016, mulai kapan lagi gak terbakar di Riau? Tahun 2014, tahun 2015. Loh, berarti sebelum itu lahir, ini sudah aman. Karena ditangkapi semua yang bakar hutan, dipenjarakan,” kata Gulat.

“Kalau dulu kan tidak, bisa 86. Sekarang tidak, kalau gak ada ditangkap, bisa dicopot jabatannya. Karena itu diintip melalui foto udara, siapa yang mau lagi? Bakarnya cuma sedikit, masuk penjara 5 tahun. Itu memang shock therapy yang betul-betul berhasil.”

“Jadi asap kemarin 0% bukan karena dibuat PP Gambut 2016, bukan karena Badan Restorasi Gambut (BRG). Tapi karena kesadaran masyarakat meningkat dalam bahaya asap, dan ketegasan dari aparat hukum menindak tegas, penjarakan, maka orang takut,” tambah Gulat

Tentang sikap Apkasindo atas pernyataan Dubes Uni Eropa? “Jadi ada yang menarik. Dulu waktu Pak Rino (Wasekjen Apkasindo) ke Prancis, mereka itu tidak mau menerima GAPKI. Mereka hanya mau menerima petani. Ketika dialog, disuruh ke luar, mereka cuma mau dengar petaninya. Sebenarnya orang itu hanya mau mendengarkan petani, karena isu yang sampai ke mereka itu,” ujar Gulat menyimpulkan pernyataan UE di Perancis beberapa waktu lalu.

“Petani itu macam-macamlah. Membakar hutanlah, segala macam, semua-semualah, membunuh hewan-hewan liar di hutan segala macam. Tapi setelah dijelaskan sama delegasi, justru terbalik.”

“Pertanyaannya sekarang, kok bisa begitu? Makanya ketika ketemu Apkasindo dengan Parlemen Prancis, itu mengakibatkan berputarnya cara pandang Prancis itu tentang sawit. Tapi kan tidak serta-merta langsung positif. Butuh proses,” ungkap Gulat. Tim

Share