Parlemen Menghujat Sawit, Tapi Ekspor CPO Indonesia ke Eropa Naik

Eropa dan Amerika Serikat sering menjadi batu sandungan ekspor produk sawit dan turunannya dari Indonesia. Resolusi Parlemen Eropa yang menolak sawit pada bulan Maret lalu adalah salah satunya. Namun ternyata, di tahun 2017 ini, impor Crude Palm Oil (CPO) asal Indonesia ke Eropa dan Amerika Serikat mengalami kenaikan.

Kenaikan yang cukup signifikan itu memang dicatatkan negara-negara Uni Eropa. Padahal negara-negara dari Benua Biru itu baru saja melancarkan hambatan dagang dengan menerbitkan resolusi Parlemen Eropa pada Maret lalu.

Ekspor CPO Indonesia ke Benua Biru selama semester I 2017 mencapai 2,7 juta ton. Ini menunjukkan kenaikan yang luar biasa dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang hanya mengimpor sebanyak 1,9 juta ton.

Selain kenaikan ekspor ke Eropa, pada semester pertama 2017 itu juga diikuti dengan kenaikan yang sama pada negara-negara Afrika sebesar 36,5%, Bangladesh 29%, Amerika Serikat 27% dan China 18%.

Justru yang mengejutkan, pada minggu keempat Juni lalu yang merupakan perayaan Idul Fitri di tahun 2017, ternyata terjadi stagnasi  di negara-negara muslim.

Biasanya, pada saat jelang hari raya Idul Fitri ekspor minyak sawit Indonesia meningkat. Itu  karena kebiasaan konsumsi, khususnya di negara berbasis mayoritas muslim akan naik dan mempengaruhi meningkatnya permintaan.

Tapi tahun ini jelang hari raya Idul Fitri, ekspor minyak sawit Indonesia tersungkur dengan membukukan penurunan sebesar 18% atau dari 2,6 juta ton pada bulan Mei turun menjadi 2,1 juta ton pada Juni. Padahal harga minyak sawit juga sedang murah di kisaran USD 640 – USD 725 per metrik ton dengan harga rata-rata USD 681.30 per metrik ton.

Harga yang rendah ini tetap tak mampu mendongkrak ekspor. Lesunya pasar minyak sawit global dipengaruhi oleh melimpahnya produksi minyak nabati lainnya seperti kedelai dan rapeseed. Melimpahnya produksi membuat harga kedelai dan rapeseed turun, sehingga minyak sawit yang bukan merupakan minyak nabati utama di Eropa, Amerika Serikat dan China bukan menjadi pilihan utama.

Sedang produksi minyak sawit Indonesia pada Juni lalu masih stagnan dan cenderung sedikit menurun. Produksi pada Juni ini hanya mampu mencapai 3,327 juta ton atau sekitar 3 ribu ton dibandingkan produksi Mei lalu yang mencapai 3,33 juta ton. jss

Share